Rawaheng — Tradisi Sedekah Bumi kembali digelar masyarakat RW 05 Desa Rawaheng pada Kamis (7/5/2026). Kegiatan yang melibatkan seluruh RT di wilayah tersebut berlangsung meriah dan penuh nuansa kebersamaan.
Sejak pagi hari, warga berdatangan membawa berbagai hasil bumi seperti padi, sayuran, buah-buahan, hingga tumpeng yang kemudian didoakan bersama sebagai bentuk rasa syukur atas rezeki dan hasil panen yang diperoleh masyarakat.
Suasana semakin semarak ketika arak-arakan hasil bumi mengelilingi kampung diiringi hiburan rakyat dan kesenian tradisional. Anak-anak, pemuda, hingga orang tua tampak antusias mengikuti rangkaian kegiatan yang telah menjadi tradisi turun-temurun tersebut.
Ketua RW 05, Asifudin, mengatakan Sedekah Bumi bukan hanya kegiatan budaya, tetapi juga menjadi sarana mempererat hubungan sosial antarwarga.
“Tradisi ini menjadi momentum memperkuat silaturahmi dan gotong royong masyarakat. Semua warga terlibat bersama, mulai dari persiapan hingga pelaksanaan,” ujarnya.
Kegiatan Sedekah Bumi diawali dengan doa bersama dan selamatan yang dipimpin tokoh masyarakat setempat. Setelah itu, warga menikmati makan bersama sebagai simbol persatuan dan kebersamaan tanpa membedakan status sosial.
Tradisi Sedekah Bumi sendiri telah lama hidup dalam budaya masyarakat Jawa sebagai ungkapan rasa syukur atas kesuburan tanah dan hasil pertanian. Seiring perkembangan zaman dan masuknya nilai-nilai Islam, tradisi tersebut dipadukan dengan doa bersama, tahlil, dan sedekah sehingga tetap relevan dengan kehidupan masyarakat saat ini.
Di tengah perubahan sosial dan gaya hidup modern yang cenderung individualistis, kegiatan seperti Sedekah Bumi dinilai penting untuk menjaga hubungan sosial dan kekompakan warga desa. Momen tersebut juga menjadi ajang berkumpulnya masyarakat, termasuk warga perantauan yang pulang untuk mengikuti tradisi tahunan.
Warga berharap tradisi Sedekah Bumi dapat terus dilestarikan sebagai warisan budaya desa sekaligus pengingat pentingnya rasa syukur, gotong royong, dan kepedulian antar sesama.***