Berita 12 Sep 2026 45 Dilihat

Kades Rawaheng Apresiasi Enam Santriwati yang Khatam Al-Qur’an

Website Resmi Desa Rawaheng

RAWAHENG – Kepala Desa Rawaheng, Sukanto, di sela-sela kesibukannya menyempatkan hadir dalam Pengajian Umum dalam rangka Khotmil Qur’an dan Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 H, yang digelar di kompleks Masjid Al-Huda, RT 01/RW 04, Desa Rawaheng ( Sabtu, 12 September 2026).


Dalam kesempatan tersebut, Kades Rawaheng menyampaikan apresiasi dan rasa bangganya kepada enam santriwati yang telah berhasil menyelesaikan atau khatam membaca Al-Qur’an. Menurutnya, keberhasilan tersebut merupakan buah dari konsistensi dan kedisiplinan dalam belajar dan mengaji.


“Butuh konsistensi dan disiplin untuk bisa menghatamkan Al-Qur’an. Ini merupakan sebuah pencapaian yang patut kita banggakan,” ungkapnya.


Sukanto juga menekankan pentingnya peran orang tua dalam membimbing dan mengawasi perkembangan anak. Menurutnya, orang tua memiliki tanggung jawab besar untuk terus mengingatkan dan memberikan motivasi kepada anak-anak agar senantiasa istiqamah dalam belajar dan mengaji.


Ia menambahkan, berbagai kegiatan positif yang melibatkan anak usia dini, pelajar, maupun remaja dapat menjadi bagian penting dalam membentuk karakter dan kepribadian generasi muda. Kegiatan keagamaan, pendidikan, maupun aktivitas sosial di lingkungan masyarakat diharapkan menjadi madrasah awal bagi perkembangan anak, sehingga mereka tidak mudah terjerumus ke dalam kegiatan negatif yang dapat merusak masa depan.


“Anak-anak perlu diberikan ruang untuk mengikuti kegiatan yang positif, baik kegiatan keagamaan, pendidikan maupun kegiatan sosial. Dengan demikian, mereka memiliki bekal dan lingkungan yang baik untuk tumbuh dan berkembang,” pesannya.


Selain prosesi Khotmil Qur’an, kegiatan tersebut juga diisi dengan Pengajian Umum dalam rangka memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 H. Tausiah disampaikan oleh Ustadzah Qurrotul Aini Farislda, S.Pd.I., M.Pd.I., dari Ciarus.


Menariknya, pengajian mengusung tema “Wayang Santri”, yakni memadukan kesenian tradisional wayang kulit dengan dakwah Islam. Konsep tersebut menjadi media penyampaian pesan-pesan keagamaan dengan pendekatan budaya tradisional, sehingga diharapkan dapat lebih mudah diterima dan menarik perhatian masyarakat, khususnya generasi muda.


Kegiatan Khotmil Qur’an dan Maulid Nabi tersebut berlangsung dalam suasana penuh khidmat dan kebersamaan. Selain menjadi momentum untuk meningkatkan kecintaan terhadap Al-Qur’an dan keteladanan Nabi Muhammad SAW, kegiatan ini juga menjadi sarana mempererat silaturahmi serta memperkuat kepedulian masyarakat terhadap pendidikan keagamaan generasi penerus.****


Sumber : Zaen

Tulis Komentar